inityas

Cerita untuk ibu

In Cerita saja on 7 November 2009 at 10:53 PM

Ibu… Hari Selasa yang lalu, aku mengajar bu. Sesuatu yang sudah begitu lama tidak aku lakukan. Mungkin yang terakhir sebelum itu adalah ketika aku hamil Lintang, mengajar gratis pemrograman ke teman-teman teknisi. iya bu, gratispun rasanya aku mau. Karena dari mengajar, seolah aku menemukan diriku. Aku jadi ingat bu, dulu ibu juga seorang guru. Sepertinya dari ibu aku mendapatkan keinginan untuk mengajar.

Aku mengajar di sekolah tinggi Bu… muridnya bapak-bapak yang ditugaskan belajar pendidikan D4. Kurang lebih seumuran mbak ninik lah… Gak kebayang lho bu, bagaikan masuk sarang penyamun. Lha wong laki-laki semua je. Seru juga sih… Pengalaman pertama ngajar di sini. Sebenarnya ini tugas Kadivku bu. Beliau berbaik hati memberikan kesempatan kepada kami yang masih muda untuk mengajar. Dan dengan begitu mau ga mau aku jadi buka-buka buku, nanya ke sana kemari.. Maklum, dosen dadakan… Kan malu Bu, kalo ga siap di depan mahasiswa, halah… Dan kabar baiknya adalah, kata pak kadiv caraku mengajar cukup oke.. Kecapnya nomor satu (kasian ya murid-muridku, podo kapusan kabeh :P )

Dan malam ini aku dinas sendirian di tower Bu.. Lagi-lagi kita sama ya.. Tidak banyak teknisi wanita yang dinas malam. Kita sebagian kecil yang termasuk ya Bu,hehehe… “Gak popo de, ndhisik ibu yo mlebu bengi. Sing penting dijogo kesehatane…” Iya bu,jangan khawatir. Tadi aku sudah minum sari kurma, makan mie ayam, nasi goreng,dan dopping teh tarik panas untuk mengalahkan dinginnya tower bandara.
Aku jadi teringat lagi, dulu hobi banget nemenin ibu dinas malam. Sambil berlagak memakai headphone, berpura-pura menjadi ibu. Ibu begitu tekun menerima komplain, memberikan informasi, dan sesekali memberiku bonus dengan memutar nomor telpon teman-temanku. hehe… lucu sekali.
Dan sekarang giliran lintang yang ketagihan nganterin bundanya kerja. bukan untuk belajar jadi operator telkom bu, tapi untuk mengamati pesawat datang dan pergi, kejar-kejaran sama kucing penunggu kantin, sampai memetik setiap jenis bunga yang tumbuh di taman tower. Cepat sekali waktu berlalu ya Bu…

Hmm… dan besok sudah hari Minggu lagi. Hari “kencan” kita biasanya ya Bu… Dan besok, aku ada acara arisan di rumah. tenang bu.. segalanya sudah siap insya Allah. Aku ga masak kok bu, pesen semua… Belum pede masak dan yang jelas mboten sempet…hihihi… sudah dulu ya bu, aku mau kembali bekerja. Ada sistem yang menunggu di cek, dan ada modul yang harus kulengkapi. Tapi ndak usah khawatir ibu, doaku untuk ibu selalu…

Aku sayang ibu…Cup cup cup mmmuaahhh!!!!

(titip ibu ya Karim… sampaikan betapa aku begitu menyayanginya..)

Berjuta tanya

In inspiration on 24 Juli 2009 at 5:57 PM

Dulu aku bertanya, mengapa ya mataku sipit?
Seringkali teman-teman memperolokku
karena mata sipitku
Belakangan aku tahu, mata sipit itulah
yang berhasil memikat hatinya,
hati suamiku

Dulu aku bingung, mengapa ya aku dapet topik skripsi yang njelimet?
Nyaris tak dapat mengejar waktu wisuda bareng geng sekost-an
Sekarang aku tahu, justru topik itu yang memikat dia, bos yang mewawancariku saat aku melamar kerja.

Dulu aku bingung
Kok aku jadi anak tengah ya?
Lebih sering memakai lungsuran (baju bekas)
bahkan di hari pertama masuk sma-ku
Sekarang aku tahu, bahwa itu membuatku lebih bisa menikmati bermacam suasana, berbagai kondisi
meskipun tanpa barang-barang baru.

Dulu aku sering heran
kok ibuku begitu ‘pelit’ ya?
ini itu harus dengan menyisihkan uang jajanku
Nyaris tidak ada yang gratis kecuali di waktu-waktu tertentu
Sekarang aku tahu, bagaimana jerih payah mereka menghidupiku
Dan betapa nikmatnya merasakan hasil keringat sendiri

Dulu sering aku bertanya
Mengapa aku begitu pemalu?
Dan sekarang, ketika bisa kukalahkan rendah diriku
semua begitu indah.. Berbicara atau tampil di depan orang-orang menjadi sebuah kenikmatan yang datang berulang-ulang tanpa perlu dicari

Dulu aku bertanya, kapan aku bisa berbahagia?
Betapa masalah demi masalah selalu datang menghampiri
Kini aku tahu, ketika bisa melewatinya
di situlah hidupku lebih bermakna

Dulu aku bertanya,
untuk apa aku hidup?
untuk siapa kuhabiskan sisa umurku?
Sekarang aku tahu,
bahwasanya hidup ini muaranya hanya satu
untuk berbuat yang terbaik demi Dia Yang Maha Indah
Demi Dia yang tak pernah henti mengukir makna dalam setiap detik hidup kita

Sekarang aku berkata
Betapa beruntungnya aku
dengan setiap detik yang telah kutempuh
bersama setiap orang yang ditakdirkan dekat denganku
bersama siapapun yang pernah singgah dalam kehidupanku
bersama rasa syukur yang kuingin selalu ada di sini, di jiwaku.

the word of ikhlas

In inspiration on 4 Juli 2009 at 1:42 PM

Ingatkan aku ya Allah…

Bahwasanya ikhlas itu tanpa syarat…

Bagai matahari yang terus menampakkan diri

walau tanpa hirau dari tiap makhlukMu

Ingatkan aku ya Rahman

Bahwa ikhlas itu seterusnya

Tidak terpengaruh musim

tidak tergoyahkan angin

tidak tergilas zaman

Ingatkan aku ya Nur…

bahwa ikhlas itu bagaikan cahaya

menetapkan langkah di kala gundah

menebarkan cinta dan bukan amarah

Ikhlas… ikhlas… ikhlas…

tanamkan di hati, tetapkan untukĀ  dijalani

selalu. tanpa syarat.

tower, 4 juli 09.

baru diuji menjadi ikhlas… ^_^